Rabu, 29 Juli 2009

DISAAT DAKU TUA

Disaat aku tua , aku bukan lagi diriku yang dulu .
Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.

Disaat aku menumpahkan kuah sayuran di bajuku,
disaat aku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu,
Ingatlah saat-saat bagaimana aku mengajarimu ,
membimbingmu untuk melakukannya.

Disaat aku dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu,.
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku, 
dimasa kecilmu, aku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah aku ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.

Disaat aku membutuhkanmu untuk memandikanku,
Janganlah menyalahkanku, ingatkah dimasa kecilmu, bagaimana aku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi.?

Disaat aku kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,
Janganlah menertawaiku, renungkanlah bagaimana aku dengan sabarnya menjawab setiap " mengapa" yang engkau ajukan saat itu.

Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan,
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku,
bagaikan dimasa kecilmu aku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.

Disaat aku melupakan topik pembicaraan kita,
Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya. 
sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku,
asalkan engkau berada disisiku untuk mendengarkanku, aku telah bahagia.

Disaat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih.
Maklumilah diriku, dukunglah daku,
bagaikan aku terhadapmu disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan.

Dulu aku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini,
kini temanilah daku hingga akhir jalan hidupku, 
berilah aku cinta kasih dan kesabaranmu ,
aku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur.
Didalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak terhingga padamu


disadur dari sebuah aliran ajaran agama Budha

Nilai Kasih Ibu

Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari Seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang dihulurkan oleh si anak dan membacanya. 

OngKos upah membantu ibu: 
1) Membantu Pergi Ke Warung: Rp 20.000 
2) Menjaga adik Rp 20.000 
3) Membuang sampah Rp 5.000 
4) Membereskan Tempat Tidur Rp 10.000 
5) menyiram bunga Rp 15.000 
6) Menyapu Halaman Rp 15.000 
Jumlah : Rp 85.000 

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar. Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama . 
1) OngKos mengandungmu selama 9 bulan- GRATIS 
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS 
3) OngKos air mata yang menetes karenamu -GRATIS 
4) OngKos Khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu -GRATIS 
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu -GRATIS 
6) OngKos mencuci pakaian, gelas, piring dan keperluanmu - GRATIS 
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - GRATIS 

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, " Saya Sayang Ibu " .Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya: " Telah Dibayar " LUNAS.

Diambil dr Email temen

Senin, 27 Juli 2009

Humor Pagi

Seorang turis dr Batak dtng ke Israel dan

Dia menawar perahu mau keliling2 di Danau Galilea dan diberitahu

pemilik perahu bahwa sewa perahu US$10/jam. "Mahal kali ?!!!!!! Di

Danau Toba, negara saya Indonesia , sewa perahu nggak sampai

separuhnya. Itu pun sudah puas naik perahu berkeliling! !"



Pemilik perahu menjawab, "Ini, kan, di Israel, bukan di Indonesia .

Di danau inilah Tuhan Yesus berjalan di atas air....."



Mendengar jawaban pemilik perahu itu, spontan turis Batak tersebut

berjalan pergi sambil merepet (ngedumel). "Oo, Oo, patut ma antong

gabe mardalan pat Tuhan Yesus najolo ai sumaling do hape argani sewa

ni solu di tao Galilea on!!!!!" (Terjemahan: "Pantaslah Tuhan Yesus

jadi berjalan di atas air waktu itu, soalnya mahal sekali sewa

perahu di danau Galilea ini.")



(yang tersenyum, diberkati Tuhan )

Minggu, 26 Juli 2009

Suami

Bukan suami yang baik..
Bukan ayah yang baik..

Kalau aja ayah ku ada..
Aku bisa contoh dia..
Kalau saja ibu tidak menjanda..
Aku bisa tiru ayahku …

Maafkan ayah bila dia salah..
Maafkan suami bila dia khilaf..
Maafkan atas ketidaktahuan ini..
Maafkan atas kekerasan hati ini..

Laki-laki menangislah..
Menangislah bila itu perlu..
Laki-laki keluarkan airmatamu…
Menyanyilah dengan lagu sendu…

Ketuk pintu hati mu..
Lebarkan kelopak matamu..
Airmata itu...

Jangan anggap dirimu cengeng…

Hari Esok menunggu ..
Melangkah bersama…

Batam 27 Juni 2009

Salvo

Salvo itu..
Terdengar lagi sekarang…
Lebih dari sekali..
Akan kah terdengar lagi..

Hampir 30 thn yang lalu..
Pertama kali kudengar..
Di depan peti mati kakekku..
Suaranya nyaris sama…

Suaranya memecah kesunyian.
Kenapa senjata itu diarahkan ke atas.
Baiknya tepat didadaku..
Agar aku ikut mati.

Ikut …

Peluru kosong rupanya.
Selongsong nya jatuh ke tanah.
Seiring air mata jatuh..
Semua terdiam.

Semua terpaku…
Merah putih terlipat.
Turun ke tanah.

Ke pangkuan Ibu Pertiwi
Ke pangkuan Sang Pencipta

Hari ini
Di Seluruh nusantara terdengar lagi.
Sebagai penghormatan.
Aku tidak suka suaranya.

Haruskah mereka mati.
Arahkan senjata itu ke nurani.
Arahkan suaranya ke hati.
Haruskah berulang kali.

 
Batam, 21/05/09