Senin, 17 Agustus 2009

utk orang tua yg selalu merasa dirinya benar ...

Tahun 2005 lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami bernama Dika, duduk kelas 4 SD. Waktu itu saya harus berurusan dengan wali kelas & kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas & kepala sekolah, Dika duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru & kepala sekolah justru menanyakan apa yg terjadi di rumah sehingga anak tsb selalu murung & menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot.

Dgn lemah lembut saya tanyakan kpd Dika: "Apa yg kamu inginkan ?" Dika hanya menggeleng. "Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya sy. "Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.

Bberapa kali sy berdiskusi dengan wali kelas & kepala sekolah utk mencari pemecahannya, namun sdh sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat utk meminta bantuan seorang psikolog. Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah utk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dlm hitungan menit. Bberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.

Angka kecerdasan rata2 anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

Perbedaan yg mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yg berbeda itulah yg menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lbh lanjut. psikolog itu dgn santun menyarankan utk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lg. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.
Suatu sore,sy mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. interview & test tertulis yg dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yg menurutnya menjadi salah satu penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya sy bs membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yg jujur dari hati Dika yang paling dlm itu membuat sy berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yg msh jauh dr ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku ..."

Dika menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja" Dgn bberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini sy kurang memberi kesempatan kpada Dika utk bermain bebas. Waktu itu sy berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga sy merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kpn waktunya bermain puzzle, kpn waktunya bermain basket, kpn waktunya membaca buku cerita, kpn waktunya main game di komputer dan sebagainya. Wkt itu sy berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan2 secara merata di sela2 waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. ternyata permintaan Dika hanya sederhana: diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ..."

Dika pun menjawab dengan kalimat berantakan namun kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku untuk melakukan sesuatu".
beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, sperti apa yg diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi2 kmudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan & minum tanpa harus dilayani orang lain, nonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yg habis dibacanya & tidur tepat waktu. Sederhana mmang, tetapi hal2 sprti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak …"

Dika menjawab "Menganggapku sperti dirinya" . Dlm banyak hal sy merasa bahwa pengalaman hidup sy yg suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih utk mencapai sesuatu yg sy inginkan itu merupakan sikap yg paling baik & bijaksana. Hampir2 sy ingin menjadikan Dika persis seperti diri sy. Sy & banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita / bahkan beranggapan bahwa anak adlh orang dewasa dlm bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak ..."

Dika menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah,kemudian ia pun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ..."
Dika menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja". Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal yg menurut sy penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yg diberikan gurunya. Namun ternyata hal yg menurut sy penting, bukanlah sesuatu yg penting utk anak sy. Dgn jawaban Dika yang polos & jujur itu sy diingatkan bahwa kecerdasan tdk lbh penting daripada hikmat & pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tdk kalah pentingnya dgn ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang ..."Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan nya.

Aku ingin ayahku tdk selalu merasa benar, paling hebat & tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya & meminta maaf kepadaku".

Memang dlm banyak hal, orang tua berbuat benar, ttapi sebagai manusia orangtua tak luput dr kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahannya & kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, sperti apa yg diajarkan orang tua kpadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ..."
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dgn lancar "Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat2 seperti ia mencium dan memeluk adikku". Memang adakalanya sy berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi sy sdh tdk pantas lg dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan
sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari ..." Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata "tersenyum".

Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.
Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku ..." Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus" Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku ..." Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".

Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya.
Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan".

Tanpa sy sadari, sy telah melanggar hak anak sy krn telah memanggilnya dgn panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.

Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. orang tua hrs mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik.

salam

2 komentar: